Kamis, 22 Desember 2016

Tumbuhnya Rasa Cinta



Derasnya rintik-rintik air hujan jatuh. Gelap menemani diri ketika pasien silih berganti menemui. Hingga tepat jam 12 malam tiba, ku tengok sana-sini masih terdengar bisik-bisik suara yang membuat gendang telinga bergetar. Akhirnya suasana ini usai. Rasa lelah terobati karena pasien telah terlayani, berharap kesembuhan dan kepulihan cepat datang. Di Rumah Sakit ini aku mengabdi membantu menolong sesama dan menjalin hubungan sosial. Senang rasanya bila mendengar akan kelahiran seorang baby. Namun, ketika kepenatan mulai tiba menghabiskan waktu dengan keluarga sangat ingin kulakukan.
          “Dok,, dokter,, dokterrr,,, .” Ucap seseorang dengan cepat terdengar seperti suara anak kecil. Ku tengok kekanan dan kekiri tak ada seorangpun. Ku mulai melangkah kedepan, hanya satu langkah ingin berjalan panggilan itu terdengar lagi. Dengan memasang wajah yang pucat seorang anak kecil datang di depanku dan memberikan aku 2 butir permen. Akupun bingung, dengan senyum manisku, aku menerimanya dengan senang hati. “Terima Kasih Dokter cantik,, “ Kata anak kecil ini bahagia. Akupun menjawabnya “Sama-sama.. tapi untuk apa berterima kasih?”. Anak kecil ini menjawab dengan lemah lembut “Dokter telah menyelamatkan mama dan adikku, sekarang aku punya adik yang sangat lucu. Dok.. terima kasih atas jasamu.” (memeluk dokter dengan erat penuh cita). Terdiam dan tak bisa berkata-kata yang ku lakukan, “Sayang,, itu memang sudah kewajiban seorang dokter, menolong dan mengobati pasien.” Tegasku pelan.
          “Roy.. kamu dimana??” teriak seorang laki-laki keras. Terlihat seorang lelaki yang sepertinya sudah berkepala 3 berpakaian rapi dengan dasi coklatnya, dengan cepat menghampiriku dan menarik tangan anak kecil ini. “Papa kan sudah bilang jangan pergi kemana-mana, kamu ini nakal sekali... Nanti kalo kamu kenapa-napa Papa juga nanti yang repot. Jangan sam..” dengan cepat ku memotong perkatannya “Maaf,, dia hanya memberikan saya ini.” Menunjukkan permen yang tadi diberikan. “Dia sangat baik dan tidak nakal sama sekali, saya seharusnya berterima kasih padanya, pak.”
          “Dokter,, seharusnya saya yang meminta maaf, karena Roy, anak saya sudah lancang kepada dokter. Memang mamanya senang mengajarkan Roy bagaimana membalas kebaikan seseorang dan bagaimana berterima kasih kepada orang lain, namun dia belum mengerti bagaimana cara yang baik dan benar.” Jawab laki-laki ini dengan tegas. “Dia anak yang hebat, jarang sekali anak seusianya yang mampu melakukan hal semacam ini.” Ucapku kembali. “Sekali lagi saya minta maaf dok, Ayo Roy kita temui mama, mamamu sudah menunggu dari tadi.” Menggandeng tangan Roy dengan tegasnya. “Sama-sama Pak.” Ucapku sambil membalas lambaian tangan anak kecil itu. 
          Bersender di kursi pasien sangatlah nyaman, sambil mengamati permen yang tadi diberikan anak kecil itu, tanpa disadari tertulis kata ^terima kasih^ dibelakang salah satu kemasan permen ini. Teringatlah kembali masa-masaku yang fenomenal bagiku. Masa-masa ketika awan mendung terasa bersinar dan layunya mawar terasa sedang tersenyum dan hal yang menurutku tak fair lainnya.
          Suara penggorengan berbunyi membuka mataku dan aroma harum tercium membuat perut ini ingin memakan sesuatu.
          Sepertinya Ibu sedang memasak sesuatu, sepagi ini?? Tak biasanya seperti ini. Apa karena aku masuk sekolah menengah atas untuk pertama kali? Hmm.,, Ibu..,, Kenapa dia tak membangunkan aku? Padahal waktu subuh sudah tiba.. Ungkap dalam hatiku.
          Ku tarik selimut pinkku dan bergegas mengambil air wudhu. Kali ini sepertinya tak berjama’ah lagi karena Abi lebih sering menghabiskan waktu di warung makannya. “Ibu..” teriakku manja. “Ada apa Isyah?? Ibu di dapur sedang sibuk ini.” Dengan cepat ku temui ibu di dapur. “Kenapa ibu tidak bangunkan Isyah? Nanti kalo Isyah terlambat masuk sekolah gimana? Terus tadi hampir saja waktu subuh terlewati. Apa ibu lupa? Atau ibu sudah tidak sayang sama Isyah lagi?” tanyaku kecewa. Dengan wajah cemberutku aku duduk di meja makan. Ibuku terdiam saja dengan rasa tak bersalah melanjutkan memasak makanan kembali.
          Rasa kecewakupun bertambah pada ibu, ditemani kekecewaan ini aku bergegas mandi. Hari ini adalah pertama kalinya aku masuk sekolah menengah atas. Memakai seragam putih abu-abu untuk pertama kalinya diselingi dengan khimar hadiah dari Abi. Aku memang tidak melanjutkan ke sekolah dengan tittle ada unsur nuansa islami, entahlah padahal dalam keluarga kami sangatlah menjunjung syariat islam dan wajib patuh pada peraturan islam. Kata abangku itu karena nazar nenek sebelum ia meninggal.
          “Aisyah...,, aisyah...” teriak mba Ana. “Sebentar mba,, Isyah lagi siap-siap ini..” jawabku sedikit keras. “Ada apa mba??” tanyaku.”Aisyah adik mba yang paling cantik.. yang paling baik hatinya.. dan yang paling mba Anis sayangi.,, Kenapa tasnya mba tidak ada? Kenapa jadi tasnya Isyah yang ada? Barang-barang mba juga kenapa ada didalam tasnya Isyah??” Tanya mba Ana sedikit galak padaku. “Hihihi.,,, Mba Ana cantik.. Isyah minjem sebentar ya mba. Isyah ndak suka model Tas ini warnanya terlalu mencolok pula Abi salah pilih tas pasti, jadi Isyah minjem punya mba ya??” tanyaku sedikit takut. “Isyah kalo mau minjem harusnya bilang dulu, jangan asal seperti itu. Itu tidak baik dan tidak sopan namanya. Hmm.,,” jawabnya sedikit lembut.
          Tiba waktunya sarapan pagi. Sepertinya Bang Yusuf sudah berangkat kerja dan apa mungkin dia masih belum bisa move on dari mba Sinta?? Ungkap hatiku. “Cepatlah makan syah nanti keburu dingin ini.” Ucap mba Ana. “Iya mba.” Jawabku.
          “Isyah sekarang berangkat dengan mba Ana dulu ya,, ndak apa kan naik motor bareng mba Ana??” tanya Ibu lirih. “Ndak masalah bu,, toh juga sekolah Isyah kan deket, naik angkot juga sampe kok.” Jawabku sumringah. Bergantian aku dan mba Ana mencium tangan ibu dan berpamitan untuk berangkat. Menuju motor matic mba Ana yang terlihat masih gress. “Ibu.. Isyah berangkat.... Assalamualaikum..” ungkapku sambil merangkul mba Ana kuat. “Wa’alaikum salam.. hati-hati nak..” jawab ibu pelan.
***
          “Isyah udah nyampe ini,, turun gih..”
          “Iya mba.,,”
          “Ya udah buruan masuk kelas, inget sekarang udah SMA harus serius belajarnya.. jangan buat Abi sama Ibu kecewa.” Ungkap mba Ana seperti memberi semangat.
          “Sipp mba.” Sambil mengangkat kedua jempolku.
          “Mba berangkat dulu.”
          “Hati-hati mba..” melambaikan kedua tanganku penuh cita.
          Aku dengan mba Ana memang tidak satu sekolah, sekarang mba Ana sudah kelas 3 SMA. Dia memang sangat berbeda denganku, mba Ana cantik dan termasuk siswa yang pintar di sekolahnya, dia juga piawai memainkan piano berbeda denganku yang tak memiliki kepiawaian dalam hal apapun. Hmm..  dalam hati ku bicara.
          Gubrak...!!
          Terdengar suara seperti gesekan yang membuat telinga ngilu. Ku berbalik badan dan ternyata., ku berlari dan seraya mengatakan “Astagfirullah.. Nenek tidak apa-apa kan?” sambil membantu nenek berdiri. “Nek.. kaki nenek berdarah ini..” sambil ku mengelus kaki nenek yang terluka. “Cu.. nenek tidak apa-apa.., bisa ambilkan tongkat nenek??” tanyanya sedikit menahan kesakitan.”Maaf nek.. saya tadi nggak lihat ternyata ada orang disini, sekali lagi maaf nek. Ini tongkat nenek.” Ucap seorang pemuda. “Makasih cu.. ndak apa nenek memang yang tidak lihat-lihat kalo ada motor, lain kali nenek kalo nyebrang akan lebih hati-hati lagi. Bisa bantu nenek berdiri??”
“Ayo nek.” Ungkapku serentak bersama pemuda itu.
Ya Allah bagaimana ini kenapa rasa-rasanya berbeda sekali, pemuda ini memandangku begitu tajam, aku tak bisa mengelak, dan.., mengapa akupun tak bisa menahan pandanganku??? Ya ALLAH maafkan Aisyah.. dalam lubuk hati ku bicara.
“Nek.. ini ada sedikit bantuan.. maaf tadi saya sudah membuat nenek jatuh.” Memberikan beberapa lembar rupiah merah.
“Terima kasih cu,, tidak perlu cu,, nenek masih bisa berjalan dan simpan saja uangmu ini, berikan saja kepada yang lebih membutuhkan.”
“Tapi nek, anggap saja ini sedekah dari saya..”
“Tidak terima kasih.. mari..” sambil mengangguk.
“Nek..,, hm.. hati-hati nek..” ungkap pemuda penuh penyesalan.
          Terdiam dan membisu yang dapat ku lakuakan, bingung ingin berbuat apa. Rasa canggung mulai datang padaku. Membuat lamunanku ini semakin menjadi-jadi.
“HEY..,” ucap pemuda ini sambil melambaikan tangan di depan wajahku.
Akupun kaget.. “Iya??” rasanya gugup sekali. Mengingat tidak biasanya aku bercakap dengan laki-laki.
“Makasih ya tadi loe udah bantu nenek itu. Gue berhutang budi sama loe.”
“Ooo.. iya sama-sama. Tolong-menolong kan sudah kewajiban kita.” Jawabku sedikit pelan.
“Hm.. bener juga apa kata loe.. Gue Rendra.” Menyodorkan tangan kanannya padaku.
Ya Allah bagaimana ini..?? Aku tak bisa bersalaman dengan yang bukan menjadi muhrimku.
“Kok malah diem??”
“Oh.. Aku Aisyah.” Sambil menundukkan kepalaku.
“Bunyi bel sekolah tuh.. gue masuk dulu ya..”
“Ooo iya.”
***
          Beruntung banget masuk kelasnya ndak telat. Ehm.. syukur juga gurunya belum masuk. Aku langsung duduk di kursi yang masih kosong. Sayangnya kursi disampingku belum terisi padahal harusnya satu kelas terisi semua, sepertinya ada siswa deh yang belum masuk kelas.
          “Selamat pagi semua” ucap guru baruku.
          “Tidak usah setegang itu murid-murid.”ucap buguru sedikit tajam.
          “Eh.. loe tau nggak kalo kata kakak kelas kita guru ini nih yang paling killer di sekolah.” Ungkap siswa lain dibelakangku lirih.
          “Masa sih?? Tapi emang kelihatan banget dari mukanya, katanya sih guru ini ngajar matematika.” Bisik siswa lain yang duduk dibelakangku.
TOK.. tokk.. tokk..
          “Maaf bu,, saya telat masuk kelas.” Ungkap seorang laki-laki
          Semua orang terpacu padanya dan tak terkecuali bu guru yang sedang menyiapkan materi untuk pembelajaran.
          Bukannya laki-laki ini yang tadi ku temui dijalan?? Ketika menolong seorang nenek?
          “Siapa yang menyuruh masuk??” tegas bu guru.
          “Maaf bu.. tapi saya..”
          “Saya apa??” tegas bu guru.
          “Peringatan saja, ketika pembelajaran saya siapapun yang tidak disiplin akan mendapatkan hukuman. Baik itu tidak disiplin waktu, berpakaian, atau pengumpulan tugas. Mengerti???” tegas bu guru sedikit keras.
          “Jadi maaf saja kamu saya hukum tidak boleh mengikuti pelajaran saya selama 2 jam pelajaran saja, silahkan kamu keluar dan jangan lupa tulis dalam kertas sebanyak 100 kalimat ^saya tidak akan terlambat masuk kelas^ faham ?? setelah itu kamu boleh masuk dan mengikuti pelajaran saya.” Katanya sambil menatap laki-laki itu tajam.
          “Tunggu bu,, ehm.. begini bu dia terlambat karena tadi dia menabrak seorang nenek di jalan sebelum menuju gerbang sekolah.” Ungkapku.
          “Maksudnya bagaimana??”
          “Karena setelah kejadian itu bel masuk kelas berbunyi, dan dia harus memarkir motornya terlebih dahulu, dan tempat parkirnya lumayan jauh dari kelas ini, jadi maklum sekali jika dia terlambat masuk ke kelas.” Jawabku penuh keyakinan.
          “Oh.. ya?? Oke kalo begitu.. kamu boleh masuk ke kelas dan ikut pelajaran.”
          “Terima kasih bu.” Ungkap pemuda itu.
***
          Tetottt... tetottt.. Bunyi bel istirahat berbunyi.
“Makasih ya.” Ungkap laki-laki ini padaku.
“Makasih untuk apa?” tanyaku sedikit bingung.
“Ini buat loe.. gue harap loe bakal jadi temen yang baik buat gue.” Menyodorkan 2 butir permen.
Kenapa semakin memperparah perasaan aku ya Allah. Ditambah laki-laki ini bertempat duduk disampingku, aku tak bisa seperti ini, aku takut hanya ada nafsu dalam diriku. Ya Allah kumohon hilangkan ini semua.
          Diapun menatapku dengan memberikan senyuman manisnya.
“Terima Kasih.”
“Coba deh baca bagian belakang bungkusnya.”
“ ^Terima Kasih^??” tanyaku.
“Hehehe.,, gue lucu kan??”
“Kamu terlihat lucu??? Biasa saja.. justru kamu terlihat gantlement.”
“Oh ya??.. ehm mendingan nggak usah panggil gue,, ^kamu^ panggil gue Rendra aja. Oke ??”
“O..o Iya.,” jawabku terbata.
***
          Hari demi hari aku lewati, Setiap saat bertatap muka dengan Rendra dan Mengapa sejak pertama bertemu rasa indah itu mulai tercipta. Ku mohon ya Allah Swt jangan sampai Dia mengetahui perasaan ini. Ehm., Meskipun Dia tergolong pada laki-laki yang nakal, banyak tingkah, dan... tapi dia baik hati dan pemurah, dia ndak suka marah, orangnya pemaaf banget, dan bisa mengkondisikan dirinya dalam situasi yang sulit.
          Mungkin dia tak pernah memperhatikan diriku ini, yah Siapa sih aku?? Anak remaja yang kuno dan ndak bisa bergaul.Tapi ingat aku punya ini,,punya rasa punya hati dan punya apa yang biasa di sebut oleh kaum hawa *CINTA*. Apa mungkin?? Mungkin apanya? Mungkinkah seorang Rendra dapat menerima cinta seorang remaja yang udik?? Akupun tak berharap seperti itu, karena kupikir Cinta itu tidak boleh diumbar dan cinta bersifat hakiki tidaklah baik rasanya jika rasa cinta meminta balasan dari yang apa ia cintai, justru kita harus dapat menghargai apa itu cinta dengan perbuatan kita.
          Bu Cristi tugasnya aneh banget, masa iya isyah harus bawa 20 buku ke ruang perpustakaan yang baru, ndak kira-kira ini. Parah-parah moga aja hukumannya Cuma ini, ndak disuruh lari kiter-kiter lapangan 100 kali.
Grudug..,, grudugg..
“Aduh.,, maaf banget.. sini gue bantu.” Ungkap seorang perempuan berparas cantik.
“Ndak apa kok,, Isyah bisa sendiri.” Ucapku.
“Sekali lagi gue minta maaf ya.”
“Iya ndak apa, ini salah Isyah, tadi aku keburu-buru dan ndak lihat-lihat jadinya nabrak, untuk ndak nabrak tembok.” Ungkapku sedikit menggelak tawa.
“Oh iya gue Fanya.. gue kelas 10 IPA B.” Menyodorkan tangan kanannya padaku.
“Aku Isyah kelas 10 IPA A.” Membalas salam perkenalannya.
“Oh.. ya udah aku bantu ya..? Mau dibawa kemana ini?” tanya Fanya.
“Ke perpus atas, itu perpustakaan yang baru.”
“Oke Lets Go.”
***
          Sepertinya mendung ini saat lagi akan menjatuhkan air mata, Benar tidak ada hitungan menit hujan lebat datang mengguyur. Aduh gimana ini?? Aku pulang sama siapa?? Bang Yusuf pasti lagi sibuk, bisnisnya kan sekarang lagi laku berat, Mba Ana lagi ngerjain tugas project. Apa iya harus nunggu hujan reda?? Ndak mungkin lha.. Aku harus cepat-cepat pulang kasihan Abiku,ndak ada yang bisa bantu di warung makannya.
          TUT..tutt.., bunyi talksound mobil ferrari berbunyi nyaring.
“Hai Syah.,, Hujannya deres banget nih.. kok belum pulang??.”
“Emm.. Aku..”
Belum selesai kubicara Fanya dengan cepat mengatakan..
“Aduh.. Syah hujannya makin lama makin deres nih,, yaudah pulang bareng aja ya?? Yukk.” Ajaknya.
“Emm.., ya udah deh.. Makasih ya Fanya.”
Dengan cepat pun aku masuk kedalam mobil Fanya yang terlihat mewah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar