Derasnya
rintik-rintik air hujan jatuh. Gelap menemani diri ketika pasien silih berganti
menemui. Hingga tepat jam 12 malam tiba, ku tengok sana-sini masih terdengar
bisik-bisik suara yang membuat gendang telinga bergetar. Akhirnya suasana ini
usai. Rasa lelah terobati karena pasien telah terlayani, berharap kesembuhan
dan kepulihan cepat datang. Di Rumah Sakit ini aku mengabdi membantu menolong
sesama dan menjalin hubungan sosial. Senang rasanya bila mendengar akan
kelahiran seorang baby. Namun, ketika
kepenatan mulai tiba menghabiskan waktu dengan keluarga sangat ingin kulakukan.
“Dok,, dokter,, dokterrr,,, .” Ucap
seseorang dengan cepat terdengar seperti suara anak kecil. Ku tengok kekanan
dan kekiri tak ada seorangpun. Ku mulai melangkah kedepan, hanya satu langkah
ingin berjalan panggilan itu terdengar lagi. Dengan memasang wajah yang pucat
seorang anak kecil datang di depanku dan memberikan aku 2 butir permen. Akupun
bingung, dengan senyum manisku, aku menerimanya dengan senang hati. “Terima
Kasih Dokter cantik,, “ Kata anak kecil ini bahagia. Akupun menjawabnya
“Sama-sama.. tapi untuk apa berterima kasih?”. Anak kecil ini menjawab dengan
lemah lembut “Dokter telah menyelamatkan mama dan adikku, sekarang aku punya
adik yang sangat lucu. Dok.. terima kasih atas jasamu.” (memeluk dokter dengan
erat penuh cita). Terdiam dan tak bisa berkata-kata yang ku lakukan, “Sayang,,
itu memang sudah kewajiban seorang dokter, menolong dan mengobati pasien.”
Tegasku pelan.
“Roy.. kamu dimana??” teriak seorang
laki-laki keras. Terlihat seorang lelaki yang sepertinya sudah berkepala 3
berpakaian rapi dengan dasi coklatnya, dengan cepat menghampiriku dan menarik
tangan anak kecil ini. “Papa kan sudah bilang jangan pergi kemana-mana, kamu
ini nakal sekali... Nanti kalo kamu kenapa-napa Papa juga nanti yang repot.
Jangan sam..” dengan cepat ku memotong perkatannya “Maaf,, dia hanya memberikan
saya ini.” Menunjukkan permen yang tadi diberikan. “Dia sangat baik dan tidak
nakal sama sekali, saya seharusnya berterima kasih padanya, pak.”
“Dokter,, seharusnya saya yang meminta
maaf, karena Roy, anak saya sudah lancang kepada dokter. Memang mamanya senang
mengajarkan Roy bagaimana membalas kebaikan seseorang dan bagaimana berterima
kasih kepada orang lain, namun dia belum mengerti bagaimana cara yang baik dan
benar.” Jawab laki-laki ini dengan tegas. “Dia anak yang hebat, jarang sekali
anak seusianya yang mampu melakukan hal semacam ini.” Ucapku kembali. “Sekali
lagi saya minta maaf dok, Ayo Roy kita temui mama, mamamu sudah menunggu dari
tadi.” Menggandeng tangan Roy dengan tegasnya. “Sama-sama Pak.” Ucapku sambil
membalas lambaian tangan anak kecil itu.
Bersender di kursi pasien sangatlah
nyaman, sambil mengamati permen yang tadi diberikan anak kecil itu, tanpa
disadari tertulis kata ^terima kasih^ dibelakang salah satu kemasan permen ini.
Teringatlah kembali masa-masaku yang fenomenal bagiku. Masa-masa ketika awan
mendung terasa bersinar dan layunya mawar terasa sedang tersenyum dan hal yang
menurutku tak fair lainnya.
Suara penggorengan berbunyi membuka
mataku dan aroma harum tercium membuat perut ini ingin memakan sesuatu.
Sepertinya
Ibu sedang memasak sesuatu, sepagi ini?? Tak biasanya seperti ini. Apa karena
aku masuk sekolah menengah atas untuk pertama kali? Hmm.,, Ibu..,, Kenapa dia
tak membangunkan aku? Padahal waktu subuh sudah tiba.. Ungkap dalam hatiku.
Ku tarik selimut pinkku dan bergegas mengambil air wudhu. Kali ini sepertinya tak
berjama’ah lagi karena Abi lebih sering menghabiskan waktu di warung makannya.
“Ibu..” teriakku manja. “Ada apa Isyah?? Ibu di dapur sedang sibuk ini.” Dengan
cepat ku temui ibu di dapur. “Kenapa ibu tidak bangunkan Isyah? Nanti kalo
Isyah terlambat masuk sekolah gimana? Terus tadi hampir saja waktu subuh terlewati.
Apa ibu lupa? Atau ibu sudah tidak sayang sama Isyah lagi?” tanyaku kecewa. Dengan
wajah cemberutku aku duduk di meja makan. Ibuku terdiam saja dengan rasa tak
bersalah melanjutkan memasak makanan kembali.
Rasa kecewakupun bertambah pada ibu,
ditemani kekecewaan ini aku bergegas mandi. Hari ini adalah pertama kalinya aku
masuk sekolah menengah atas. Memakai seragam putih abu-abu untuk pertama
kalinya diselingi dengan khimar hadiah dari Abi. Aku memang tidak melanjutkan
ke sekolah dengan tittle ada unsur
nuansa islami, entahlah padahal dalam keluarga kami sangatlah menjunjung
syariat islam dan wajib patuh pada peraturan islam. Kata abangku itu karena
nazar nenek sebelum ia meninggal.
“Aisyah...,, aisyah...” teriak mba Ana.
“Sebentar mba,, Isyah lagi siap-siap ini..” jawabku sedikit keras. “Ada apa
mba??” tanyaku.”Aisyah adik mba yang paling cantik.. yang paling baik hatinya..
dan yang paling mba Anis sayangi.,, Kenapa tasnya mba tidak ada? Kenapa jadi
tasnya Isyah yang ada? Barang-barang mba juga kenapa ada didalam tasnya
Isyah??” Tanya mba Ana sedikit galak padaku. “Hihihi.,,, Mba Ana cantik.. Isyah
minjem sebentar ya mba. Isyah ndak suka model Tas ini warnanya terlalu mencolok
pula Abi salah pilih tas pasti, jadi Isyah minjem punya mba ya??” tanyaku sedikit
takut. “Isyah kalo mau minjem harusnya bilang dulu, jangan asal seperti itu.
Itu tidak baik dan tidak sopan namanya. Hmm.,,” jawabnya sedikit lembut.
Tiba waktunya sarapan pagi. Sepertinya
Bang Yusuf sudah berangkat kerja dan apa mungkin dia masih belum bisa move on dari mba Sinta?? Ungkap hatiku.
“Cepatlah makan syah nanti keburu dingin ini.” Ucap mba Ana. “Iya mba.”
Jawabku.
“Isyah sekarang berangkat dengan mba
Ana dulu ya,, ndak apa kan naik motor bareng mba Ana??” tanya Ibu lirih. “Ndak
masalah bu,, toh juga sekolah Isyah kan deket, naik angkot juga sampe kok.”
Jawabku sumringah. Bergantian aku dan mba Ana mencium tangan ibu dan berpamitan
untuk berangkat. Menuju motor matic
mba Ana yang terlihat masih gress. “Ibu..
Isyah berangkat.... Assalamualaikum..” ungkapku sambil merangkul mba Ana kuat.
“Wa’alaikum salam.. hati-hati nak..” jawab ibu pelan.
***
“Isyah udah nyampe ini,, turun gih..”
“Iya mba.,,”
“Ya udah buruan masuk kelas, inget
sekarang udah SMA harus serius belajarnya.. jangan buat Abi sama Ibu kecewa.”
Ungkap mba Ana seperti memberi semangat.
“Sipp mba.” Sambil mengangkat kedua
jempolku.
“Mba berangkat dulu.”
“Hati-hati mba..” melambaikan kedua
tanganku penuh cita.
Aku dengan mba Ana memang tidak satu
sekolah, sekarang mba Ana sudah kelas 3 SMA. Dia memang sangat berbeda
denganku, mba Ana cantik dan termasuk siswa yang pintar di sekolahnya, dia juga
piawai memainkan piano berbeda denganku yang tak memiliki kepiawaian dalam hal
apapun. Hmm.. dalam hati ku bicara.
Gubrak...!!
Terdengar suara seperti gesekan yang
membuat telinga ngilu. Ku berbalik badan dan ternyata., ku berlari dan seraya
mengatakan “Astagfirullah.. Nenek tidak apa-apa kan?” sambil membantu nenek
berdiri. “Nek.. kaki nenek berdarah ini..” sambil ku mengelus kaki nenek yang
terluka. “Cu.. nenek tidak apa-apa.., bisa ambilkan tongkat nenek??” tanyanya
sedikit menahan kesakitan.”Maaf nek.. saya tadi nggak lihat ternyata ada orang
disini, sekali lagi maaf nek. Ini tongkat nenek.” Ucap seorang pemuda. “Makasih
cu.. ndak apa nenek memang yang tidak lihat-lihat kalo ada motor, lain kali
nenek kalo nyebrang akan lebih hati-hati lagi. Bisa bantu nenek berdiri??”
“Ayo
nek.” Ungkapku serentak bersama pemuda itu.
Ya
Allah bagaimana ini kenapa rasa-rasanya berbeda sekali, pemuda ini memandangku
begitu tajam, aku tak bisa mengelak, dan.., mengapa akupun tak bisa menahan
pandanganku??? Ya ALLAH maafkan Aisyah.. dalam lubuk hati ku bicara.
“Nek..
ini ada sedikit bantuan.. maaf tadi saya sudah membuat nenek jatuh.” Memberikan
beberapa lembar rupiah merah.
“Terima
kasih cu,, tidak perlu cu,, nenek masih bisa berjalan dan simpan saja uangmu
ini, berikan saja kepada yang lebih membutuhkan.”
“Tapi
nek, anggap saja ini sedekah dari saya..”
“Tidak
terima kasih.. mari..” sambil mengangguk.
“Nek..,,
hm.. hati-hati nek..” ungkap pemuda penuh penyesalan.
Terdiam dan membisu yang dapat ku
lakuakan, bingung ingin berbuat apa. Rasa canggung mulai datang padaku. Membuat
lamunanku ini semakin menjadi-jadi.
“HEY..,”
ucap pemuda ini sambil melambaikan tangan di depan wajahku.
Akupun
kaget.. “Iya??” rasanya gugup sekali. Mengingat tidak biasanya aku bercakap
dengan laki-laki.
“Makasih
ya tadi loe udah bantu nenek itu. Gue berhutang budi sama loe.”
“Ooo..
iya sama-sama. Tolong-menolong kan sudah kewajiban kita.” Jawabku sedikit
pelan.
“Hm..
bener juga apa kata loe.. Gue Rendra.” Menyodorkan tangan kanannya padaku.
Ya Allah bagaimana ini..?? Aku tak bisa
bersalaman dengan yang bukan menjadi muhrimku.
“Kok
malah diem??”
“Oh..
Aku Aisyah.” Sambil menundukkan kepalaku.
“Bunyi
bel sekolah tuh.. gue masuk dulu ya..”
“Ooo
iya.”
***
Beruntung banget masuk kelasnya ndak
telat. Ehm.. syukur juga gurunya belum masuk. Aku langsung duduk di kursi yang
masih kosong. Sayangnya kursi disampingku belum terisi padahal harusnya satu
kelas terisi semua, sepertinya ada siswa deh yang belum masuk kelas.
“Selamat pagi semua” ucap guru baruku.
“Tidak usah setegang itu
murid-murid.”ucap buguru sedikit tajam.
“Eh.. loe tau nggak kalo kata kakak
kelas kita guru ini nih yang paling killer
di sekolah.” Ungkap siswa lain dibelakangku lirih.
“Masa sih?? Tapi emang kelihatan
banget dari mukanya, katanya sih guru ini ngajar matematika.” Bisik siswa lain
yang duduk dibelakangku.
TOK..
tokk.. tokk..
“Maaf bu,, saya telat masuk kelas.”
Ungkap seorang laki-laki
Semua orang terpacu padanya dan tak
terkecuali bu guru yang sedang menyiapkan materi untuk pembelajaran.
Bukannya
laki-laki ini yang tadi ku temui dijalan?? Ketika menolong seorang nenek?
“Siapa yang menyuruh masuk??” tegas bu
guru.
“Maaf bu.. tapi saya..”
“Saya apa??” tegas bu guru.
“Peringatan saja, ketika pembelajaran
saya siapapun yang tidak disiplin akan mendapatkan hukuman. Baik itu tidak
disiplin waktu, berpakaian, atau pengumpulan tugas. Mengerti???” tegas bu guru
sedikit keras.
“Jadi maaf saja kamu saya hukum tidak
boleh mengikuti pelajaran saya selama 2 jam pelajaran saja, silahkan kamu
keluar dan jangan lupa tulis dalam kertas sebanyak 100 kalimat ^saya tidak akan
terlambat masuk kelas^ faham ?? setelah itu kamu boleh masuk dan mengikuti
pelajaran saya.” Katanya sambil menatap laki-laki itu tajam.
“Tunggu bu,, ehm.. begini bu dia
terlambat karena tadi dia menabrak seorang nenek di jalan sebelum menuju
gerbang sekolah.” Ungkapku.
“Maksudnya bagaimana??”
“Karena setelah kejadian itu bel masuk
kelas berbunyi, dan dia harus memarkir motornya terlebih dahulu, dan tempat
parkirnya lumayan jauh dari kelas ini, jadi maklum sekali jika dia terlambat masuk
ke kelas.” Jawabku penuh keyakinan.
“Oh.. ya?? Oke kalo begitu.. kamu
boleh masuk ke kelas dan ikut pelajaran.”
“Terima kasih bu.” Ungkap pemuda itu.
***
Tetottt... tetottt.. Bunyi bel istirahat berbunyi.
“Makasih ya.” Ungkap laki-laki
ini padaku.
“Makasih untuk apa?” tanyaku
sedikit bingung.
“Ini buat loe.. gue harap loe
bakal jadi temen yang baik buat gue.” Menyodorkan 2 butir permen.
Kenapa semakin memperparah perasaan aku ya
Allah. Ditambah laki-laki ini bertempat duduk disampingku, aku tak bisa seperti
ini, aku takut hanya ada nafsu dalam diriku. Ya Allah kumohon hilangkan ini
semua.
Diapun menatapku dengan memberikan
senyuman manisnya.
“Terima
Kasih.”
“Coba
deh baca bagian belakang bungkusnya.”
“
^Terima Kasih^??” tanyaku.
“Hehehe.,,
gue lucu kan??”
“Kamu
terlihat lucu??? Biasa saja.. justru kamu terlihat gantlement.”
“Oh
ya??.. ehm mendingan nggak usah panggil gue,, ^kamu^ panggil gue Rendra aja.
Oke ??”
“O..o
Iya.,” jawabku terbata.
***
Hari demi hari aku lewati, Setiap saat
bertatap muka dengan Rendra dan Mengapa sejak pertama bertemu rasa indah itu
mulai tercipta. Ku mohon ya Allah Swt jangan sampai Dia mengetahui perasaan
ini. Ehm., Meskipun Dia tergolong pada laki-laki yang nakal, banyak tingkah,
dan... tapi dia baik hati dan pemurah, dia ndak suka marah, orangnya pemaaf
banget, dan bisa mengkondisikan dirinya dalam situasi yang sulit.
Mungkin dia tak pernah memperhatikan
diriku ini, yah Siapa sih aku?? Anak remaja yang kuno dan ndak bisa bergaul.Tapi
ingat aku punya ini,,punya rasa punya hati dan punya apa yang biasa di sebut
oleh kaum hawa *CINTA*. Apa mungkin?? Mungkin apanya? Mungkinkah seorang Rendra
dapat menerima cinta seorang remaja yang udik?? Akupun tak berharap seperti
itu, karena kupikir Cinta itu tidak boleh diumbar dan cinta bersifat hakiki
tidaklah baik rasanya jika rasa cinta meminta balasan dari yang apa ia cintai,
justru kita harus dapat menghargai apa itu cinta dengan perbuatan kita.
Bu
Cristi tugasnya aneh banget, masa iya isyah harus bawa 20 buku ke ruang
perpustakaan yang baru, ndak kira-kira ini. Parah-parah moga aja hukumannya
Cuma ini, ndak disuruh lari kiter-kiter lapangan 100 kali.
Grudug..,,
grudugg..
“Aduh.,,
maaf banget.. sini gue bantu.” Ungkap seorang perempuan berparas cantik.
“Ndak
apa kok,, Isyah bisa sendiri.” Ucapku.
“Sekali
lagi gue minta maaf ya.”
“Iya
ndak apa, ini salah Isyah, tadi aku keburu-buru dan ndak lihat-lihat jadinya
nabrak, untuk ndak nabrak tembok.” Ungkapku sedikit menggelak tawa.
“Oh
iya gue Fanya.. gue kelas 10 IPA B.” Menyodorkan tangan kanannya padaku.
“Aku
Isyah kelas 10 IPA A.” Membalas salam perkenalannya.
“Oh..
ya udah aku bantu ya..? Mau dibawa kemana ini?” tanya Fanya.
“Ke
perpus atas, itu perpustakaan yang baru.”
“Oke
Lets Go.”
***
Sepertinya mendung ini saat lagi akan
menjatuhkan air mata, Benar tidak ada hitungan menit hujan lebat datang
mengguyur. Aduh gimana ini?? Aku pulang sama siapa?? Bang Yusuf pasti lagi
sibuk, bisnisnya kan sekarang lagi laku berat, Mba Ana lagi ngerjain tugas
project. Apa iya harus nunggu hujan reda?? Ndak mungkin lha.. Aku harus
cepat-cepat pulang kasihan Abiku,ndak ada yang bisa bantu di warung makannya.
TUT..tutt.., bunyi talksound mobil ferrari berbunyi nyaring.
“Hai
Syah.,, Hujannya deres banget nih.. kok belum pulang??.”
“Emm..
Aku..”
Belum
selesai kubicara Fanya dengan cepat mengatakan..
“Aduh..
Syah hujannya makin lama makin deres nih,, yaudah pulang bareng aja ya?? Yukk.”
Ajaknya.
“Emm..,
ya udah deh.. Makasih ya Fanya.”
Dengan
cepat pun aku masuk kedalam mobil Fanya yang terlihat mewah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar